Oleh: feusakti | Februari 23, 2011

ENERGI: Menyoal Stiker Barcode untuk Membatasi Pembelian BBM Bersubsidi

UNTUK melaksanakan kebijakan pembatasan penggunaan BBM bersubsidi, maka bagi kendaraan umum angkot ditempel barcode untuk memantau jumlah BBM yang dibeli yaitu tidak boleh lebih dari 30-40 liter per hari. Tentu, barcode dilengkapi dengan scanner.

Bisakah?

Kalau angkot itu hanya membeli di SPBU tertentu memang bisa dilakukan. Sebab data-datanya tersimpan di SPBU tersebut. Bagaimana bila angkot tersebut membeli BBM bersubsidi di SPBU lain? Apakah SPBU lain mempunyai data dari angkot tersebut? Kalau sistem online mungkin bisa. Cuma, apa bisa diterapkan sistem online? Tampaknya sangat sulit.

Akan timbul banyak masalah

Sudah pasti banyak kendala yang akan timbul. Bagaimana jika stiker barcodenya rusak? Butuh waktu berapa lama untuk memberikan stiker bagi jutaan kendaraan pemakai BBM bersubsidi, termasuk motor? Apakah stiker barcode tersebut tidak bisa diakali?

Ribet

Kebutuhan BBM bersubsidi bagi kendaraan umum itu berbeda-beda.Bahkan sangat berbeda-beda.Bus saja bermacam-macam. Ada bus kota, bus antarkota dan bus antarprovinsi. Bus antarkotapun jarak tempuhnya berbeda-beda. Angkotpun jarak tempuhnya berbeda-beda. Rute gemuk dan rute kering juga menyebabkan kebutuhan BBM juga berbeda. Jalan macet dan tidak macet juga ada pengaruhnya terhadap kebutuhan BBM.

Terjebak pada logika puting beliung

Saya menilai, pemerintah terjebak pada logika “puting beliung”. Beerputar-putar tidak karuan dan dengan hasil yang tidak jelas.

Tidak realistis

Dengan berbeda-bedanya situasi dan kondisi kendaraan umum dan motor pribadi, maka sangat sulit penerapan sistem stiker barcode tersebut. Begitu sulitnya, maka akan memasuki wilayah tidak realistis.

Saran solusi

1.Mencabut subsidi BBM hingga 100%

Sejak era Soeharto saya sudah menyarankan agar subsidi BBM dicabut 100% secara bertahap sebab subsidi BBM merupakan miitos ekonomi. Merupakan kebijakan semua yang kelihatannya baik tetapi pada akhirnya justru merugikan pemerintah karena terlalu membebani APBN.

Kenaikan tersebut misalnya Rp 500 per 6 (enam) bulan. Ada pengaruhnya terhadap perekonomian terutama kenaikan harga-harga, tetapi pengaruhnya di bawah 10%. Artinya, pengaruhnya tak seberapa.

Di dalam ilmu ekonomi kita kenal istilah “keseimbangan ekonomi”. Artinya, tiap peristiwa ekonomi, akan diikuti peristiwa ekonomi lainnya yang bertujuan mencapai keseimbangan ekonomi dengan tujuan menghindari kerugian.

Subsidi terhadap komiditas adalah subsidi yang sangat keliru. Subsidi yang benar yaitu subsidi persona yaitu subsidi bagi masyarakat miskin. Jadi, manajemen yang perlu dibenahi adalah manajemen terhadap masyarakat miskin

2.Mempersiapkan Bahan Bakar Gas (BBG)

Cadangan gas Indonesia masih luar biasa banyak. Harus dimulai penyediaan infra strukturnya. Termasuk “tool kit” untuk semua jenis kendaraan umum dan motor (tidak untuk mobil pribadi). Harga BBG jauh lebih murah dibandingkan BBM.

Sumber berita: static.arsipberita.com

 

Hariyanto Imadha

Facebooker

 

 

 

 


Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: