Oleh: feusakti | Maret 2, 2011

EKONOMI: Subsidi BBM Merupakan Sebuah Logika Ekonomi yang Keliru

SEJARAH subsidi dimulai dari negara Inggeris yang kemudian diikuti oleh negara-negara lain. Secara teori, tujuan subsidi yaitu untuk injeksi perekonomian agar harga-harga terjangkau oleh masyarakat terutama masyarakat miskin.

Logika Ekonomi yang Keliru

Sejak era Soeharto saya sudah menulis surat pembaca bahwa subsidi atas BBM merupakan sebuah logika ekonomi yang keliru. Kelihatannya memang benar bahwa subsidi BBM akan membuat biaya transportasi menjadi murah dan berdampak harga-harga menjadi murah.

Itu hanya satu sisi kebenaran. Namun subsidi BBM mengandung banyak sisi ketidak benaran.

Antara lain:

-Ketidak adilan distrubusi, karena mobil-mobil mewah milik para konglomerat juga turut menikmati murahnya harga BBM

-Subsidi BBM yang terlalu besar mengakibatkan berkurangnya anggaran untuk pendidikan, kesehatan dan terutama pertahanan serta pos-pos penting lainnya sehingga justru mengganggu pembangunan

-Subsidi pada dasarnya bersifat tidak produktif dan merupakan beban APBN yang tiap tahun akan terus membengkak dengan naiknya harga minyak internasional

-Subsidi menimbulkan efek ekonomi semu. Artinya, barang-barang kelihatannya murah, namun di satu sisi pemerintah terjerat dengan utang dan bunga yang pada akhirnya akan dibayar rakyat.

Subsidi komoditas merupakan subsidi keliru

Bahkan saya menilai bahwa subsidi atas komoditas, misalnya subsidi pupuk, subsidi ekspor dan semua sebsidi komoditas merupakan beban APBN yang tidak produktif.

Sebaiknya subsidi personal dan atau subsidi jasa

Logikanya sederhana saja. Di Indonesia ini ada tiga golongan ekonomi masyarakat, yaitu mampu, cukup dan tidak mampu. Seharusnya ini dilakukan pada sensus penduduk 2010 sehingga bisa dibuat KTP Tiga golongan seperti yang pernah saya usulkan beberapa tahun yang lalu, yaitu KTP A (mampu),KTP B (cukup) dan KTP C (tidak mampu) di mana pemilik KTP C berhak mendapatkan biaya kesehatan, pendidikan, dll. dengan biaya murah.

Subsidi yang benar

Sudah benar bahwa jasa pelayanan kereta api dan kapal serta transportasi terdiri dari tiga macam pelayanan, yaitu eksekutif (untuk masyarakat mampu), bisnis (untuk masyarakat cukup) dan ekonomi (untuk masyarakat tidak mampu). Seharusnya ini diterapkan pada semua alat transportasi, termasuk pesawat udara, dll.

Subsidi salah sasaran

Subsidi personal BLT sebenarnya lebih cocok untuk masyarakat miskin yang secara fisik maupun psikologis tak mampu bekerja. Dengan demikian distribusi subsidi benar-benar terarah. Jika BLT dibagikan untuk semua masyarakat miskin maka ini merupakan sebuah logika subsidi yang keliru

Bahkan, saya pernah mengritik PLN, di mana rumah-rumah mewahpun mendapatkan subsidi. Tentu ini keliru. Seharusnya subsidi listrik hanya dinikmati listrik dengan daya 450 dan 900 saja.

Konsekuensi

Dengan dicabutnya subsidi komoditas, maka harga-harga komoditas akan menjadi mahal. Misalnya, subsidi pupuk dicabut, maka harga beras menjadi mahal. Subsidi transportasi dicabut, maka biaya transportasi menjadi mahal.

Istilah ‘mahal’

Merupakan istilah yang kurang tepat. Istilah yang tepat, harga-harga telah sesuai dengan ‘harga keekonomian’. Harga yang ‘real’. Harga yang nyata. Bukan harga yang semu.

Bukan logika harga murah tetapi logika menaikkan daya beli

Subsidi atas komoditas hanya menciptakan “unreal economy” atau ekonomi semu. Oleh karena itu subsidi BBM, pupuk, dll harus dicabut. Logika ekonomi yang benar bukan membuat harga murah dengan cara subsidi yang tak terarah, melainkan dengan cara meningkatkan daya beli.

Cara meningkatkan daya beli:

Yaitu menaikkan gaji PNS/TNI/Polri dan upah buruh. Harga beras yang mahalpun akan dinikmati para petani dan jangan sesekali pemerintah mengimpor beras dengan harga murah, kecuali sesuai dengan harga keekonomian lokal.Juga kucuran dana KUR harus diperbanyak.Juga penciptaan lapangan kerja.

Tanpa subsidi APBN akan sehat

Jika APBN tidak dibebani subsidi komoditas, maka uang subsidi bisa dialokasikan untuk kepentingan yang lain. Misalnya untuk pendidikan, kesehatan, terutama untuk masyarakat tidak mampu. Pemerintah juga mampu membeli alat-alat dan sistem pertahanan militer yang canggih, memperbaiki infrastruktur terutama di luar Pulau Jawa, dll. Manfaatnya akan lebih bisa dirasakan masyarakat Indonesia secara keseluruhan dan di berbagai sektor.

 

Hariyanto Imadha

Penulis Kritik Pencerahan

Sejak 1973

 

 

 

https://feusakti.wordpress.com

 

 


Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: