Oleh: feusakti | April 1, 2011

MANAJEMEN: Ada Apa dengan Kebijakan Penjatahan BBM Bersubsidi?

JIKA berita itu benar, kabarnya pemerintah akan (atau bahkan sudah) melakukan Kebijakan Pembatasan Penjatahan BBM Bersubsidi mulai 1 April 2011. Artinya, stok BBM Bersubsidi di SPBU akan dikurangi. Konsekuensinya, jika BBM Bersubsidi habis, maka pengendara motor dan mobil “dipaksa” untuk membeli BBM Nonbersubsidi, antara lain Pertamax yang harganya jauh lebih mahal.

Kemudian, di SPBU di pasang spanduk yang secara umum isinya mengatakan BBM Premium hanya untuk yang berhak. Maksudnya, hanya untuk motor, angkutan umum atau untuk masyarakat miskin.

Kebijakan yang konyol

Bayangkan, betapa sengsaranya mereka yang kehabisan BBM Premium kalau harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli Pertamax. Lebih kacau lagi kalau itu menimpa angkuutan umum (bajaj,bemo,angkot,metromini,bus,taksi,dll). Apalagi kalau itu menimpa usaha-usaha komersil.

Spanduk yang tidak efektif

Begitu juga spanduk yang mengatakan BBM Premium hanya untuk orang miiskin juga tidak akan efektif. Sebab, motivasi orang membeli BBM adalah motivasi ekonomi. Bukan motivasi psikologis.

Akan mengacaukan perekonomian

Dampak yang paling terasa yaitu terjadinya kekacauan ekonomi. Harga-harga bisa dipastikan akan naik. BBM Premium akan semakin langka karena diborong pihak-pihak yang tidak bertangggung jawab, kemudian dijual dengan harga lebih mahal, terutama dijual secara eceran.

Penjatahan tepat volume

Pemerintah membantah menggunakan istilah pembatasan kuota BBM bersubsidi untuk SPBU, melainkan penjatahan tepat volume. Lucunya, tolok ukurnya tidak jelas. Sebab, kebutuhan BBM tiap SPBU berbeda-beda dan fluktuatif. Kadang sedikit, kadang banyak dan kadang kurang.

Tidak mampu menjabarkan tujuan

Mungkin ada petunjuk dari presiden, bahwa anggaran untuk subsidi BBM Bersubsidi harus dikurangi tanpa harus menaikkan harga BBM Bersubsidi. Jika benar, maka petunjuk ini tentu sangat sulit dilakukan.

Usul kenaikan harga ditolak

Kalangan universitas telah diminta untuk melakukan kajian. Hasilnya, menaikkan harga BBM dinaikkan Rp 500/liter. Namun, kajian ilmiah ini ditolak mentah-mentah dengan alasan dikawatirkan akan menaikkan angka inflasi.

Cermin kebijakan pemimpin paranoid atau ada pesanan tertentu.

Kenapa tak menaikkan harga BBM Bersubsidi Rp 500/litter? Karena ada ketakutan yang berlebihan (paranoid). Takut angka inflasi naik, takut didemo akyat, takut pencitraannya turun, takut dianggap pemerintah tidak prp rakyat dan rasa ketakutan lainnya yang sebenarnya tidak rasional.

Atau ada pesanan tertentu. Maklum, SPBU nonPertamina yang menjual BBM Nonsubsidi sepi. Diharapkan, dengan adanya kebijakan pembatasan jatah BBM Bersubsidi, maka diharapkan SPBU-SPBU NonPertamina akan kebanjiran antrian pembeli BBM Nonsubsidi.

Saran solusi

Dengan asumsi pemerintah tetap tidak mau menaikkan harga BBM Bersubsidi:

Sebaiknya SPBU diberlakukan secara khusus. Artinya, ada SPBU Khusus BBM Bersubsidi dan ada SPBU Khusus BBM Nonbersubsidi. Tujuannya, untuk memudahkan kekhususan dan pengawasan.

Misalnya: Motor ke SBPU Khusus BBM Bersubsidi sedangkan mobil pribadi ke SPBU Khusus BBM Nonbersubsidi.

Sumber foto: harianpagi.com

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

 

 

https://feusakti.wordpress.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: