Oleh: feusakti | April 5, 2011

EKONOMI: Kenapa Kapitalisme Asing Harus Ditolak?

DENGAN gaya sok tahu, teman saya yang menjadi dokter mengatakan: “Kapitalisme itu penting, karena bisa menciptakan lapangan kerja. Bahkan yang namanya koperasi pada akhirnya juga bertujuan mengumpulkan kapital, berarti koperasi juga kapitalisme. Bahkan, tiap orang yang menumpuk kekayaan juga kapitalisme”

Saya cuma mengelus dada. Betapa banyak sarjana Indonesia yang cara berpikirnya apriori dan terjebak pada semantik yang keliru. Artinya, tidak tahu tapi sok tahu. Tidak mengerti tapi sok mengerti. Kalau saya mendebatnya, pasti dia “ngeyel”. Menghadapi orang yang sok tahu memang tidak ada gunanya. Berdebat dengan mereka sama saja berdebat dengan seekor kambing.

Sarjana ekonomi yang tidak faham filsafat ekonomi

Jangankan dengan sarjana berpendidikan dokter. Mereka yang sarjana ekonomi juga sangat banyak yang cara berpikirnya sempit. Menganggap bahwa semua negara juga menganut sistem kapitalis. Hal ini bisa saya maklumi karena sarjana ekonomi Indonesia tidak pernah belajar filsafat ekonomi sehingga cara berpikirnya terbatas pada ruang gerak yang sangat terbatas. Bahkan utang luar negeri yang terus membengkak juga dijadikan pembenaran-pembenaran yang sebenarnya sangat tidak benar.

Seorang sarjana ekonomi Indonesia lulusan Amerika dengan sombongnya berkata kepada saya “Lihat, sekarang Jakarta dan kota-kota besar lain kebanjiran investor dari berbagai negara. Ada jutaan orang Indonesia mendapatkan pekerjaan. Mana mungkin pengusaha Indonesia bisa begitu?”

Saya diam saja. Cuma di dalam hati saya tertawa terbahak-bahak. Saya pikir betapa sempit cara pikir sarjana ekonomi lulusan Amerika ini. Dia bangga kalau kekayaan alam kita diekplorasi dan dieksploitasi Amerika, Inggeris dan negara-negara maju. Alasannya, SDM Indonesia belum mampu menciptakan teknologi eksplorasi dan eksploitasi yang canggih.

Kapitalisme asing segi positif dan negatifnya

Iya sih. Kapitalisme bisa menciptakan lapangan kerja. Tapi mohon dicermati, kapitalis asing hanya mampu menciptakan lapangan kerja “kelas kacung” (satpam, tukang parkir, penjaga malam, tukang ngepel dan bersih-bersih WC) dan pekerjaan-pekerjaan yang levelnya sangat rendah. Sementara itu sebagian besar keuntungan ekonomi dinikmati orang asing dan ditransfer ke negaranya sendiri.Artinya, banyak negatifnya daripada positifnya.

Andaikan kapitalisme bisa menciptakan lapangan kerja bagi 1,5 juta sarjana Indonesia yang sedang menganggur dan bisa mendatangkan keuntungan ekonomi sebesar 75%, maka saya setuju kapitalisme asing masuk Indonesia. Kenyataannya kan tidak demikian. Jadi, bangsa Indonesia sekarang ini sedang mengalami penjajahan ekonomi.

Bagaimana dengan Malaysia?

Investor asing atau kapitalisme di Malaysia memang ada, tetapi jumlahnya sedikit. Malaysia punya formula khusus untuk memajukan perekonomiannya. Yaitu, bank sentral rate (kalau di Indonesia BI rate) sangat rendah sehingga suku bunga kredit bank sangat rendah (hampir sama dengan Australia). Akibatnya, banyak warganegara Malaysia berlomba-lomba menjadi pengusaha dan menjadi kapitalisme pribumi. Hasilnya, mereka bisa menciptakan jutaan lapangan kerja bagi para TKI, walaupun levelnya tetap “kelas kacung”, tetapi Malaysia mampu mandiri di bidang ekonomi.

Ekonom Indonesia tak mampu meniru formula ekonomi Malaysia sebab filsafat ekonominya memang berorientasi kepada kapitalisme Barat. Mau didikte Amerika, mau didikte Inggeris, dan lain-lain. Akhirnya pengusaha pribumi kalah bersaing dan tak mampu berkembang.

Kenapa harus utang luar negeri?

Utang pemerintahan SBY memang luar biasa besar. Kalau awal pemerintahannya pada 2004, utang tiap warga negara Indonesia cuma Rp 5 juta. Maka pada 2010 ini telah mencapai angka Rp 9 juta per orang. Masyarakat Indonesia yang tidak faham ilmu ekonomi selalu dibohongi dengan kalimat “Utang luar negeri demi pembangunan”. Sama dengan dalil yang digunakan era Soehartoisme.

Jangan lupa, utang luar negeri yang menikmati bunganya adalah bangsa dan negara asing. Kenapa tidak mencontoh Jepang? Jepang itu utangnya banyak, tetapi kepada bangsanya sendiri (berupa obligasi dan semacamnya). Sehingga yang menikmati bunga atau devidennya adalah bangsa Jepang sendiri.

Kenapa ekonom Indonesia tak mampu mencontoh Jepang? Sudah saya katakan ekonom Indonesia yang duduk di pemerintahan itu tidak faham filsafat ekonomi. Sehingga mudah dipengaruhi teori-teori ekonomi dari Amerika, Inggeris dan negara-negara kapitalisme lainnya.

Akibat kapitalisme asing

Kalau Anda mengeluh biaya pendidikan mahal, sembako mahal, tarif jalan tol mahal dan biaya hidup semakin mahal, maka jawaban saya hanya satu :” Itulah efek dari kapitalisme asing. Itulah akibat dari utang luar negeri kita yang bunga atau dividennya dihitung berdasarkan dolar AS. Apalagi, sekarang ini pemerintah terjebak utang ke IMF lagi”

Terus terang saya ogah berdebat dengan sarjana-sarjana yang tidak mengerti filsafat ekonomi. .

Kesimpulan:

Kapitalisme asing:”memberi sedikit,mengambil banyak” dari negara Indonesia.

Sumber foto: http://www.detiknews.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger


Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: