Oleh: feusakti | April 15, 2011

EKONOMI: SBY-Boediono Memang Neolib

BOEDIONO blusukan ke pasar-pasar tradisional ya baru kali ini (2009). Soalnya sudah ketahuan masyarakat kalau dia itu sejak era SBY telah menerapkan faham ekonomi neolib.

Neolib atau neo liberalisme memang diilhami faham liberalisme yang dicanangkan Adam Smith, yang mengatakan bahwa perekonomian harus diserahkan ke pasar bebas tanpa adanya campur tangan pemerintah. Filsafat ekonominya yaitu laizei faire atau pasar bebas.

Namun konsekuensi faham liberalisme ini menimbulkan efek kapitalisme di mana hanya pemodal-pemodal besar saja yang mampu bersaing dan menguasai pasar. Atas dasar itulah, John Maynard Keynes menyempurnakan teori liberalisme, yaitu pasar bebas yang harus ada campur tangannya pemerintah.

Nah, Boediono sejak era SBY menerapkan faham neolib. Akibat kebijakan-kebijakan ekonominya yang dibisikkan ke SBY, maka masuklah supermarket-supermarket yang berakibat pasar tradisional terpuruk. Bank-bank dimanjakan sehingga 50 persen koperasi simpan-pinjam di Indonesia collapse. BUMN-BUMN diobral murah. Biaya kuliah mahal. Munculnya praktek outsorcing (sejak era Megawati) yang merugikan kaum buruh. UMKM-UMKM tak mampu bersaing dan lain-lain. Namun neolib ada positifnya, yaitu mampu menciptakan lapangan kerja baru.

Lalu muncul faham baru yang sebenarnya tidak baru benar, yaitu faham kerakyatan. Sebetulnya ekonomi kerakyatan sudah pernah digulirkan oleh Bung Hatta dengan menitikberatkan koperasi. Namun nyatanya ribuan koperasi terpaksa gulung tikar.

Ada juga faham ekonomi kerakyatan oleh Mubyarto yang lebih dikenal dengan sebutan sistem ekonomi Pancasila. Namun, faham ini juga kandas di tengah jalan karena tidak tahu bagaimana cara mengimplementasikannya.

Sekarang semua sarjana ekonomi, ekonom dan para politisi bicara soal ekonomi kerakyatan. Kerakyatan yang bagaimana lagi? Fahamnya memang belum matang benar. Ada yang mengatakan ekonomi kerakyatan adalah ekonomi yang berpihak kepada UMKM, koperasi dan berdasarkan Pancasila. Tidak jelas bagaimana bentuk kongkritnya.

Menurut saya, cara berpikir ekonom neolib yaitu lebih macro oriented. Sedangkan ekonomi kerakyatan lebih micro oriented. Keduanya sama-sama jeleknya.

Gabungan Ekonomi Neolib dan Ekonomi Kerakyatan

Sebenarnya, untuk Indonesia yang paling cocok yaitu gabungan antara faham ekonomi neolib dan ekonomi kerakyatan. Saya menyebutnya dengan istilah Faham Ekonomi Neolib Kerakyatan. Cara berpikirnya harus macro-micro oriented.

Bagaimana Penjabaran Neolib Kerakyatan?

Pemerintah dan DPR harus membuat UU Sistem Perokonomian Nasional Neolib Kerakyatan. Harus ada perbedaan perlakuan terhadap pengusaha kapitalis dan pengusaha kecil (UMKM). Untuk pelaku ekonomi kerakyatan harus dikenakan PPN lebih ringan, pajak ekspor-impor lebih ringan, tarif listrik lebih ringan, tarif telepon lebih ringan, tingkat suku bunga bank lebih ringan, dll.

Percayalah, tanpa adanya perbedaan perlakuan (saya sebut dengan istilah clara et distincta), maka gagasan ekonomi kerakyatan akan gagal lagi. Akan menjadi impian, utopis dan omong kosong saja.

Sumber foto: matanews.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger


Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: