Oleh: feusakti | Agustus 14, 2011

EKONOMI: Terjebak Pada Issue Globalisasi

NEGARA asing, terutama kapitalis asing dan lebih terutama lagi Amerika dan kroni-kroninya, tak henti-hentinya menciptakan program-program ambiguitas, di mana kelihatannya bagus, tapi sebenarnya ingin menguasai politik dan ekonomi dunia. Mulai dari menebar issue HAM, demokrasi, lingkungan hidup, ekonomi pasar atau neoliberalisme,  antiterorisme, free trade atau perdagangan bebas, globalisasi dan berbagai issue lainnya.

Globalisasi.

Menawarkan konsep yangg indah, di mana semua negara bebas beruusaha di mana saja. Misalnya, Amerika boleh membuka usaha di Indonesia dan Indonesia boleh membuka usaha di Amerika. Bagus memang. Namun, secara akal sehat, Amerika sebagai pemodal besar tentu lebih mampu menguasai pangsa pasar dibandingkan Indonesia yang modalnya relatif kecil.Dengan kata lain, Indonesia sebenarnya masiih pada posisi belum siap.

Jebakan globalisasi Amerika dan Uni Eropa

Jebakan globalisasi berikutnya adalah dominasi perdagangan dunia. AS dan Uni Eropa ingin menguasai perdagangan dunia yang saat ini sedang dipegang oleh negara Jepang dan China sebagai saingan terberat mereka. Penerapan pajak bea masuk yang sempat 0 persen terhadap komoditi strategis membuat Indonesia seperti “sampah” bagi negara adikuasa. Padahal mereka menerapkan bea masuk terhadap produk yang masuk ke negara mereka. Aturan yang berbelit dan sulit membuat produk dalam negeri sulit menembus pasar global.

Jebakan globalisasi ACFTA

Jebakan terakhir globalisasi pertanian dan sekttor perdagangan  bagi bangsa ini di level regional adalah berlakunya ACFTA. ACFTA atau ASEAN-China Free Trade Area mulai berlaku pada 1 Januari 2010 dengan menggunakan prinsip perdagangan bebas

Sekitar 100 lebih undang-undang berdasarkan pesanan asing

Menurut anggota DPR sendiri, ada sekitar 100 lebih undang-undang dibuat atas dasar pesanan negara/kapitalis asing. Mulai dari masalah investasi, perburuhan dan lain-lain yang bersifat lebih menguntungkan negara/kapitaliis asing daripada Indonesia.

Contoh:

Upaya merevisi terhadap UU No.13/2003 yang dibikin kian memberangus buruh adalah “agenda pesanan” yang biasa dilakukan para kroni rezim predatoris Orde Baru maupun sesudahnya yang, untuk beberapa kepentingan, beraliansi dengan para pemodal internasional

Kondisi ekonomi Indonesia sekarang ini

Saya mengambil rata-rata 70% sektor-sektor perekonomian kita sudah dikuasai asing

70% gedung bertingkatt di Jabodetabek dimiliki kapitalis asing

70% perbankan dikuasaai kapitalis asing

70% jasa telekomunikasi dikuasai asing

70% sumber daya alam dikuasai asing

70% perekonomian dikuassaii asing

Tak memiliki kedaulatan ekonomi

Padahal, batas toleransi investasi asing dalam menguasai pasar domestik adalah 50%. Lebih dari 50% berarti Indonesia tak memiliki kedaulatan ekonomi sekaliguus iinilah ppenjajahan ekonomi.

Tidak menyejahterakan rakyat

Seharusnya, dengan semakin banyaknya investor asing, kemiskinan di Indonesia sudah terhapus. Tidak ada lagi masyarakat miskin. Kenyataannya, kalau menggunakan kriteria kemiskinan PBB, jumlah masyarakat miskin di Indonesia masih sekitar 100 juta jiiwa.

Supermarket dan minimarket menggeser porsi pengusaha kecil

Dengan membanjirnya supermarket dan minimarket, maka pasar tradisional mulai menurun omzetnya. Bahkan dengan adanya minimarket sampai ke pelosok-pelosok, membuat toko-toko kecil mengalami penurunan keuntungan yang sangat signiifikan.

Akibat pemerintahan yang takut Amerika

Semua yang terjadi sekarang ini boleh dikatakan merupakan penjajahan ekonomi dan politik gaya baru. Semua bisa terjadi karena pemerintahan Indonesia cenderung pro Amerika dan tunduk pada tekanan-tekanan politik Amerika dan kroni-kroninya.

Neraca perdagangan minus

Kalau kita cermati, dari berbagai produk Indonesia yang diekspor ke Amerika atau negara-negara lain, neraca perdagangan Indonesia lebih banyak minusnya daripada surplusnya. Itu artinya, perekonoomian Indonesia kurang memiliki daya saing yang signifikan. Kalah dengan para kapitalis asing yang memiliki modal jauh lebih besar.

Nasionalisme yang rapuh

Cukup banyak, pemimpin, pejabat ,wakil rakyat dan bangsa Indoneesia sendiri yang nasionalisme rapuh. Lebih bangga membeli produk asing daripada produk dalam negeri.

Rasa bangga yang salah

Beberapa kalangan merasa bangga dengan banyaknya investor asing yang masuk ke Indonesia. Dengan demikian, tercipta lapangan kerja. Itu bbetul. Tetapi menjadi tidak betul manakala mereka sudah menguasai lebih dari 50% pangsa pasar. Itu artinya, Indonesia tak punya lagi kedaulatan ekonomi.

Filsafat ekonomi yang salah

Penyebabnya adalah, pemerintah ataupun para ekonom Indonesia banyak yang tak menguasai filsafat ekonomi. Akibatnya, cara pandang mereka sempit seperti katak dalm tempuurung. Hanya melihat ekonomi dari sudut pandang yang sempit. Tak ada pemikiran interdisipliner maupun multidisipliner.

Filsafat ekonomi kapitalis asing

Kapitalis asing mau masuk ke Indonesia dengan syarat-syarat upah buruh murah, biaya ekonomi rendah dan syarat-syarat lain yang lebih menguntungkan. Dengan kata lain, mereka punya filsafat ekonomi “memberi sedikit tetapi mengambil banyak”.

Bobroknya moral pemimpin,pejabat dan wakil rakyat Indonesia

Terpuruknya ekonomi Indonesia semata-mata buruknya mental sebagian eksekutif, legislatif termasuk legislatif. Mereka gamp pang disuap atau disogok demi kepentingan kapitalis asing.

Bangsa kacung

Akibat tterjebak pada issue globalisasi, maka sekarang ini, bangsa Indonesia menjadi Bangsa Kacung,Bangsa Jongos atau Bangsa Budak.

Hariyanto Imadha

Faceboooker/Blogger


Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: